Toyota Motor Manufacturing Indonesia

31 December 2014

TMMIN Tembus Target Ekspor 2014

TMMIN Tembus Target Ekspor 2014

TMMIN TEMBUS TARGET EKSPOR 2014

-Volume ekspor capai 160.000 unit, 35% lebih tinggi dari capaian 2013-

 

Jakarta – PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) hari ini mengumumkan pencapaian ekspor untuk tahun 2014. Ekspor mobil utuh (CBU – Completely Build-Up) bermerek Toyota berhasil melampaui target 30 persen, yaitu 160.000 unit atau 35 persen lebih tinggi dari angka 118.000 unit di 2013. Sementara itu persentase produksi untuk pasar ekspor di pabrik-pabrik TMMIN telah mendekati 50 persen, meningkat hampir 10 persen dari tahun sebelumnya.

“Kami bersyukur, meski kondisi industri otomotif nasional sepanjang 2014 tidak secerah tahun sebelumnya, secara umum kinerja TMMIN cukup mengembirakan. Berbagai target yang ditetap pada awal 2014 bisa dicapai dengan baik,” kata Vice President TMMIN Warih Andang Tjahjono.

Warih mengatakan, sejalan dengan semangat Toyota Indonesia yaitu Toyota Berbagi, TMMIN selalu merancang business plan dalam tiga pilar yaitu,  product and technology, pengembangan industri otomotif dan Corporate Social Responsibility (CSR).  Melalui tiga pilar inilah, sebagai bagian Toyota Indonesia, TMMIN berupaya meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian dan industri di Indonesia. “Kami yakin, keberhasilan perusahaan tidak terlepas dari kemampuannya berkontribusi secara optimal dalam setiap dinamika perekonomian dan pembangunan nasional,” kata Warih.

Dalam 5 tahun ekspor mobil utuh merek Toyota naik lima kali lipat

Sepanjang 2014 TMMIN memperoleh kepercayaan yang lebih besar untuk mengisi pasar-pasar regional Toyota seperti ekspor sedan Vios dan Avanza ke kawasan Timur Tengah dan ekspor Toyota Agya ke Filipina. Aktivitas ekspor baru ini memberi peluang yang lebih besar bagi TMMIN untuk menggenjot kontribusi terhadap upaya pemerintah mendorong ekspor non-migas untuk komoditas berbasis manufaktur.

Tidak hanya melampui target yang ditetapkan, angka ekspor mobil utuh bermerek Toyota di tahun 2014 bertambah hampir 500 persen dalam jangka waktu 5 tahun, yaitu dari kisaran 31.000 unit di 2009 menjadi 160.000 unit di 2014.

Dari total ekspor mobil utuh merek Toyota di tahun 2014, Fortuner menyumbang lebih dari 54.000 unit, Vios sekitar 28.000 unit, Innova di angka lebih dari 15.000 unit, Avanza dengan 37.000 unit, dan Toyota LiteAce sebesar 14.000 unit. Merek lain yang diekspor adalah Agya, Yaris, dan Rush.

Sementara itu ekspor dalam bentuk terurai Complete Knock Down (CKD) mencapai 42.000 unit, ekspor mesin sebesar 52.000 unit, komponen mesin di angka 100.000 unit, dan komponen mobil tercatat sebesar 62 juta komponen. TMMIN juga melakukan ekspor alat bantu produksi, jig dan dies, ke negara-negara di kawasan Asia, Amerika Latin, dan Afrika.

Outlook 2015

“Menggunakan asumsi moderat, kinerja ekspor 2015 diperkirakan akan relatif sama dengan 2014, bertumbuh sekitar 10 persen. Ini dilatarberlakangi oleh fokus kami untuk mematangkan pasar-pasar yang baru  dijangkau tahun lalu,” kata Warih. Selain itu kondisi pasar global atau ekspor diperkirakan tidak akan mengalami pertumbuhan yang signifikan. Bahkan untuk pasar tertentu seperti negara-negara Teluk atau Timur Tengah diperkirakan pertumbuhan ekonominya akan stagnan karena melemahnya harga minyak dunia.

Pada 2015 ini TMMIN juga akan lebih memperhatikan aspek daya saing terutama dalam menghadapi pasar bebas ASEAN. “Dalam kaitan itu, pengembangan Sumber Daya Manusia atau people development akan mendapat perhatian lebih intens lagi.”

Namun demikian, langkah-langkah perusahaan dalam mengantisipasi berbagai tantangan ke depan seperti makin meningkatnya kebutuhan mengembangkan kendaraan berbahan-bakar alternatif, akan tetap dilakukan. Oleh karena itu sepanjang 2015 ini, TMMIN akan tetap melanjutkan pengkajian teknologi kendaraan berbahan bakar alternatif ini seperti compressed natural gas (CNG) yang prototipe-nya tengah memasuki tahap uji coba. “Kebutuhan Indonesia terhadap kendaraan berbahan bakar CNG cukup tinggi di masa datang, sejalan dengan kebijakan pemerintah mengurangi beban subsidi untuk bahan bakar minyak,” kata Warih.  (*)