Toyota Motor Manufacturing Indonesia

05 December 2018

Toyota Raih Penghargaan dari Bank Indonesia

Bring Toyota to Win Awards from Bank Indonesia

Konsisten Kelola Investasi dan Ekspor Antar Toyota Raih Penghargaan dari Bank Indonesia Memberi nilai lebih ekspor melalui pengelolaan devisa dan pendalaman TKDN

Jakarta - Toyota Indonesia berhasil menjaga konsistensinya menjadi investor sekaligus pengekspor otomotif terbesar di Indonesia. Selain itu, kepatuhan dan ketaatan terhadap regulasi yang berlaku, pelaporan informasi dan data bisnis yang tepat waktu, serta kontribusi aktivitas investasi dan ekspor – impor, mengantarkan PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia sebagai penerima penghargaan untuk kategori Pengelola Utang Luar Negeri Terbaik dan Responden Statistik Terbaik dari Bank Indonesia. Selain itu, TMMIN juga tercatat sebagai nominator penghargaan Penyumbang Devisa Terbaik.

Kedua penghargaan tersebut diserahkan oleh Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo kepada Presiden Direktur TMMIN, Warih Andang Tjahjono dalam acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2018, Selasa 27 November 2018, berlokasi di Assembly Hall, Jakarta Convention Center

Penerima penghargaan Pengelola Utang Luar Negeri Terbaik diberikan kepada korporasi yang senantiasa mematuhi pelaksaan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan keuangannya, didukung dengan penerapan secara konsisten lindung nilai terhadap pinjaman luar negeri yang diperolehnya sehingga tidak mengganggu stabilitas devisa. Sementara penghargaan Responden Statistik Terbaik diberikan kepada korporasi yang konsisten memberikan data dan informasi secara lengkap dan tepat waktu untuk mendukung pelaksanaan survey dan kegiatan Liaison Bank Indonesia guna penyusunan statistik Bank Indonesia yang berkualitas. Sebelumnya TMMIN juga telah menerima penghargaan Kepatuhan Eksportir Pelapor Devisa Hasil Ekspor pada tahun 2015.

 

“Penghargaan ini menjadi bukti komitmen Toyota untuk memberikan lebih banyak lagi kontribusi nyata terhadap perkembangan industri otomotif Indonesia sekaligus mengukuhkan bahwa industri otomotif pantas menjadi sektor industri unggulan nasional terutama melalui investasi dan kegiatan penjagaan neraca perdagangan melalui aktivitas ekspor,” ungkap Warih Andang Tjahjono.

Kinerja Neraca Perdagangan
Kinerja ekspor TMMIN dengan tren positif dalam 5 tahun terakhir, memberikan dampak pada neraca perdagangan Toyota Indonesia. Dalam periode 2014 hingga Juli 2018 neraca perdagangan TMMIN mencatatkan net ekspor sebesar kurang lebih USD 2,9 juta (atau sekitar 43 triliun rupiah).

Positifnya neraca perdagangan di sektor hilir masih menyisakan pekerjaan rumah di dunia industri otomotif nasional. Neraca perdagangan di sektor hulu rantai suplai otomotif terutama di level pemasok komponen lapis ke 2 dan 3 masih negatif.  Salah satu penyebab permasalahan ini adalah masih banyaknya bahan mentah dan bahan baku industri manufaktur otomotif yang bersumber dari material impor.  Hal inilah yang kemudian turut memengaruhi Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) produk otomotif Indonesia. Dengan banyaknya material impor, menjadikan TKDN murni atau “true localization” tidak setinggi yang harapkan.

Untuk dapat berperan aktif memerangi ketidakseimbangan neraca perdagangan di sektor komponen otomotif, serta memberi sumbangsih pada pencapaian TKDN murni yang tinggi, TMMIN bersama pemangku kepentingan terkait melakukan upaya-upaya untuk melokalkan mentah dan bahan baku industri manufaktur otomotif yang terangkum dalam program “True Localization”. 

 

Sejak tahun 2004, TMMIN telah menggunakan baja lokal untuk bagian-bagian kendaraan tertentu. Di tahun 2017, dua jenis bahan mentah yaitu resin, bekerja sama dengan  PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP), dan non-woven fabric, bekerja sama dengan PT Herculon Carpet, telah berhasil dilokalkan, setelah sebelumnya di tahun 2016, bekerja sama dengan PT Pertamina, melokalkan engine oil lubricant. Saat ini TMMIN sedang dalam proses riset dan pengembangan penggunaan aluminium lokal untuk dipergunakan pada velg (wheel disc) bekerja sama dengan INALUM dan Pako.

 

TKDN produk-produk brand Toyota kini berada di angka 75% - 94% dengan TKDN murni di angka 65%. Toyota menargetkan bisa mencapai TKDN murni/true localization pada level 80% di tahun 2020.

Kinerja Ekspor Catatkan Tren Positif
Pada periode Januari-Oktober 2018, Toyota Indonesia mencatatkan ekspor mobil dalam bentuk utuh (completelty built up/CBU), hingga 173.700 unit. Jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (Januari-Oktober 2017), hasil ini tetap positif, naik 2 %, dari 170.400 unit. Torehan positif tetap berusaha dihasilkan Toyota Indonesia, meskipun kondisi perekonomian global terutama negara-negara tujuan ekspor masih belum stabil. 

Presiden Direktur TMMIN mengatakan, beberapa negara tradisional tujuan ekspor Toyota Indonesia masih mengalami resesi ekonomi. Kondisi ini dimanfaatkan Toyota Indonesia untuk tetap bisa menjaga efisiensi produksi dan kualitas global, sehingga tetap kompetitif dengan negara lain.

“Daya saing menjadi kunci utamanya. Selama Toyota Indonesia dan seluruh rantai pasok bisa meningkatkan dengan tetap mengedepankan kualitas, termasuk di dalamnya menggunakan sebanyak mungkin material lokal, maka produksi kita akan semakin kompetitif dan terserap dengan baik oleh negara tujuan ekspor,” kata Warih.

Dari pencapaian ekspor positif Toyota Indonesia, Fortuner masih jadi penopang utama dengan sumbangan 43.400 unit atau mencakup 25%% dari total pengiriman CBU bermerek Toyota. Posisi kedua ditempati Avanza dengan hasil 30.700 unit (18%), kemudian Agya 27.200 unit (16%). 

 

Peringkat empat terdapat generasi terbaru Rush menyusul dengan angka 25.600 unit (15%). Sedangkan, menutup posisi lima besar, diduduki Vios, sekaligus menjadi satu-satunya sedan yang diproduksi di Indonesia, berhasil jadi primadona dengan sumbangan 20.300 unit. Meskipun sedan kecil ini bukan primadona di pasar domestik,  tetapi produksi dan kinerja ekspor Vios membuktikan seberapa besar komitmen Toyota di Indonesia.

 

Selain ekspor mobil dalam kondisi CBU, Toyota Indonesia juga mengirimkan dalam bentuk terurai utuh (completely knocked down/CKD). Untuk periode yang sama tercatat terdapat 35.500 unit mobil CKD yang dikirim dari pabrik Karawang, Jawa Barat.

 

Sebagai bagian dari rantai pasok dunia (global supply chain), Toyota Indonesia juga mengekspor komponen kendaraan bermotor, dengan total 81,9 juta keping. Belum termasuk pengiriman mesin dalam bentuk utuh (engine assy), yakni 37.300 unit tipe TR dan 87.800 unit tipe RNR.

 

Bob Azam, Direktur TMMIN, menambahkan, konsistensi dan keberhasilan ekspor brand Toyota dari Indonesia menunjukan bahwa posisi Indonesia sangat strategis bagi jaringan global Toyota.

“Toyota Indonesia juga terus menciptakan SDM lokal berkualitas, lewat pendidikan Toyota Indonesia Academy (TIA) dan program vokasi sesuai strategi pemerintah. Hanya dengan SDM berkualitas Toyota Indonesia bisa tetap kompetitif menghadapi persaingan dari negara lain dan itu kita lakukan,” tutup Bob. (*)

 

 

 

 

 

 

 

 


RELATED NEWS